Wah ! Pasangan Warga Indonesia-Malaysia Ketahuan Menikah Pakai Buku Nikah Palsu
Loading...

Wah ! Pasangan Warga Indonesia-Malaysia Ketahuan Menikah Pakai Buku Nikah Palsu

Loading...

Wah ! Pasangan Warga Indonesia-Malaysia Ketahuan Menikah Pakai Buku Nikah Palsu

Buku nikah palsu beredar di Pontianak.

Dimana pasangan suami istri, Hadi Kelana bin Ahmad warga asal Bintulu, Sarawak Malaysia dan Asia Syamsudin warga asal Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas menggunakan buku nikah palsu sebagai dokumen pernikahan mereka.

Dokumen buku nikah palsu ini terungkap ketika pernikahan mereka akan di daftarkan untuk mendapat pengesahan dari Jabatan Agama Islam (Jais) Bahagian Bintulu, Sarawak.

Pelaksana Fungsi Konsuler 1 Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching, Windu Setiyoso mengungkapkan, pihak Jais sebelumnya mengirimkan surat kepada pihak Konsulat untuk mengklarifikasi terkait dokumen pernikahan tersebut, yang akan digunakan sebagai persyaratan dalam pendaftaran nikah luar negeri untuk pengesahan perkawinan pasangan beda kewarganegaraan tersebut di Bintulu.

Merasa ada yang janggal dalam buku nikah yang dilampirkan, pihak Konsulat kemudian menghubungi Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Selakau, Kabupaten Sambas yang tertera dalam buku nikah tersebut.

“Berdasarkan informasi dari dokumen itu, buku nikah itu ditandatangani oleh oknum yang mengatasnamakan KUA Kecamatan Selakau, serta menggunakan stempel dari Departemen Agama. Buku itu dikeluarkan pada 7 November 2015 seperti yang tercantum menggunakan tulisan tangan,” ujar Windu, Rabu (5/10/2016).

Pihak KUA Kecamatan Selakau, jelas Windu, kemudian mengklarifikasi bahwa buku nikah itu bukan dikeluarkan oleh pihak mereka.

Seperti yang disampaikan Kepala KUA Kecamatan Selakau, Azis Nursin, bahwa mulai pertengahan tahun 2014, KUA Selakau sudah menggunakan Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH) dengan penulisan Buku Nikah menggunakan cetak Komputer.

“Jadi pak Azis Nursin menyampaikan bahwa mereka tidak lagi menggunakan tulis tangan di dokumen pernikahan,” ucap Windu.

Penomoran Kutipan Akta Nikah juga tidak sesuai dengan tata persuratan dan ketentuan yang berlaku.

Selain itu, di KUA Selakau juga tidak ada pegawai pencatat nikah bernama Eep Saifullah seperti yang namanga tertera dan membubuhkan tandatangan dalam dokumen itu.

“Stempel KUA mulai awal 2015 sudah tidak menggunakan kata Departemen Agama lagi, tapi Kementerian Agama dan mulai awal tahun 2015 di Buku Nikah itu ada kolom NIK nya,” kata Windu menirukan ucapan Azis Nursin.

Bagian lain yang mencurigakan dari buku kikah itu, lanjut dia, adalah domisili mempelai perempuan yang beralamat di Kecamatan Pemangkat bukan Kecamatan Selakau.

Sehingga tidak mungkin pihak KUA mengeluarkan dokumen diluar kewenangan wilayah yurisdiksinya.

“Pihak KUA Selakau juga tidak kenal atau tidak tahu dengan Eep Syaifullah ini, dan di Kabupaten Sambas tidak ada pegawai pencatat nikah yang namanya itu,” ujarnya.

Terkait dengan beredar buku nikah palsu tersebut, pihak KUA Selakau akan melakukan penyelidikan dan mengklarifikasi kembali dengan melacak nomor registrasi dokumen tersebut.

Comment

SHARE